Jonan: Revolusi Industri 4.0 Bukan Lagi It’s Coming, Melainkan Has Come

(Beritadaerah – Nasional) Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan menekankan pentingnya mempersiapkan diri di era Revolusi Industri 4.0. Jonan mengatakan, Revolusi Industri 4.0 sudah datang dan tidak bisa dihindari, tidak ada satu bangsa yang bisa menghentikannya, karena itu sangat penting meningkatkan kompetensi agar dapat mengikuti era ini, karena Revolusi Industri 4.0 bukan lagi it’s coming tapi has come.

“Revolusi Industri 4.0 sudah berjalan dan membawa banyak perubahan yang diharapkan di masa depan itu luar biasa. Kita sendiri harus mengikuti perubahan zaman, revolusi 4.0 datangnya sangat masif, suka atau tidak suka Revolusi Industri 4.0 ini akan terus berjalan, tidak ada satu negarapun yang mampu menghentikan ini. Menurut saya amat tidak mungkin menghentikan ini, karena ini akan sangat membantu kehidupan anak manusia dari waktu ke waktu,” ujar Jonan saat menjadi pembicara pada Seminar Nasional Kampus dan Revolusi Industri 4.0 di Universitas Airlangga, Surabaya, Selasa (13/11).

Perkembangan teknologi komputer mewakili berjalannya Revolusi Industri 4.0. ini, ditandai dengan meningkatnya penggunaan teknologi robotic (Artificial Intelligence) serta mesin, dan di sisi lain, banyak menghilangkan pekerjaan administrasi yang dahulunya diperlukan banyak orang.

Perusahaan-perusahaan berbasis komputer dan teknologi juga meningkat pesat, menggantikan perusahaan-perusahaan berbasis sumber daya alam.

“Di tingkat korporasi, Revolusi Industri 4.0. sudah berjalan dan makin lama makin besar. Tahun 2007 perusahaan-perusahaan dengan kapital besar, yang terbesar itu Exxon Mobil dan hingga posisi ke-10, ada tiga perusahaan yang saya supervisi, yakni oil dan gas. Tahun 2017 atau 10 tahun kemudiaan, Apple dan beberapa perusahaan berbasis teknologi informasi dan komputer menjadi perusahaan dengan kapital besar masuk dalam peringkat 10 besar dunia, sedangkan Exxon sendiri turun menempati posisi ke 10,” lanjut Jonan.

Selanjutnya Jonan mengatakan, tantangan bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia dalam menyongsong Revolusi Industri 4.0 adalah bagaimana merealokasi tenaga kerjanya, agar dapat bersaing dan tetap dapat mengikuti perkembangan zaman.

Sementara, wujud dari revolusi industri 4.0 di lingkup pemerintahan adalah birokrasi yang profesional, ramping dan ringkas. “Di lingkup Aparatur Sipil Negara (ASN) dan birokrasi orangnya harus semakin lama semakin berdasarkan keahlian, makanya mulai ada fungsional, yang struktural besar sekali itu semakin lama sudah semakin kecil. Sekali lagi ingin saya katakan Revolusi Industri 4.0 itu bukan lagi it’s coming tapi has come, sudah datang dan harus dihadapi mau tidak mau,” pungkas Jonan.

Agustinus/Journalist/BD
Editor : Panda
Source : esdm

About Fadjar Dewanto

Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.