(Beritadaerah – Jakarta) Kedepannya pasar wisatawan millennial akan terus tumbuh dan menjadi pasar terbesar. Hal ini menjadi perhatian dan sinyal dari Menteri Pawisata (Menpar) Arief Yahya untuk merebut pasar tersebut dalam acara Focus Group Discusstion (FGD) II yang berlangsung di Jakarta.

“Needs dan behaviour millennial berbeda sehingga bentuk pelayanan ke depan one on one,” kata Menpar Arief Yahya dalam siaran persnya kepada Beritadaerah.co.id, Kamis, (25/10).

Menpar Arief Yahya sebagai keynote speaker menyampaikan untuk merebutnya yang pertama, wisatawan millennial memiliki kebutuhan dan perilaku yang berbeda dan mereka sangat tergantung pada pada teknologi dan media sosial. Kedua, millennial sebagai segmen yang penting karena size dan influencing powernya yang besar. Ketiga, diperlukan pengembangan strategi khusus sebagai suatu inisiatif untuk mengkapitalisasi potensi masa depan indutri pariwisata (who win the future, wins the game).

Menpar Arief Yahya menjelaskan, maksud dari segmentasi terbaiknya adalah tidak mensegmentasi karena di era digital saat ini digital menjadi pintu masuk yang dapat mengetahui secara rinci keperluan wisatawan millennial.

Menpar Arief Yahya didampingi Hermawan Kartajaya, founder & chairman MarkPlus Inc, yang menjadi narasumber pada kesempatan itu mengatakan, diperlukan strategi khusus untuk merebut pasar wisatawan millennial.

“Bila kita merebut wisatawan millennial yang merupakan pasar masa depan, maka kita yang akan menjadi pemenang. Dengan kata lain who win the future, wins the game,” kata Menpar Arief Yahya.

Sementara itu Hermawan Kartajaya mengelompokan wisatawan millennial dalam 4 kelompok yaitu digital/tech savvy (pandai dalam teknologi IT), advocators (mampu mengavokasi), experience oriented (berorentasi pada pengalaman), dan adventure seekers (pencari petualangan).

“Digital sebagai sarana pembuka. Ada wisatawan millennial kelompok tech savvy maunya digital saja, tapi banyak pula yang kemudian ingin mencari pengalaman, berpetualangan, ataupun sebagai advokasi. Wisatawan millennial kelompok advocators ini lebih suka mengunjungi destinasi-destinasi yang paling instagramble kemudian melakukan selfie dan men-share lewat instragram agar diketahui millennial lain,” kata Hermawan Kartajaya.

Dalam prakteknya 4 kelompok wisatawan millennial mempunyai keinginan berbeda satu sama lain. Misalnya kelompok digital digital/tech savvy yang sangat dipentingkan adalah kecanggihan digital platform antara lain wifi dan hotspot di destinasi yang dikunjungi harus hebat. Sedangkan kelompok experience oriented dilakukan para guide dalam upaya memberikan pengalaman kepada para wisatawan yang ditangani.

“Kelompok adventure seekers umumnya ingin menemukan autentik lokal yang ada di destinasi yang dikunjungi,” kata Hermawan seraya mengatakan, pada prakteknya mensegmentaskan wisatawan millennial belum ada pakemnya sehingga pendekatannya sementara ini menggunakan frame strategi dengan pengelompokan tersebut.

FGD II mengambil tema bahasan ‘Strategi Pemasaran Yang Efektif Untuk Merebut Pasar Millennial Tourism’. Sedangkan FGD I yang telah digelar di Jakarta pada Kamis lalu (18/10), dengan mengangkat tema ‘Millennials & Disruption, Tantangan Model Bisnis’ yang menampilkan nara sumber Prof. Rhenald Kasali, Ph.D dari Founder Rumah Perubahan. FGD III akan berlangsung di Jakarta pekan depan.

Kegiatan FGD ini sebagai upaya penguatan strategi pariwisata dalam merespons millenial tourism dan dari kegiatan ini diharapkan akan menghasilkan strategi dan rencana aksi. Kemenpar memproyeksikan jumlah wisatawan millennial mencapai 34% atau sektiar 7 juta dari target 20 juta wisman yang akan pemerintah raih pada tahun depan.

Yohan/Journalist/BD
Editor : Nanie
Source : Kemenpar

 

About The Author

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.